GAJI SAYA SUDAH CUKUP
Ketika itu aku hanyalah anak baru di salah satu Bank Swasta besar. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka dan yang akan ku kerjakan. Pengalaman pertamaku bekerja di Bank, saat itu aku belajar pada divisi CIAS (Credit Investigation & Appraisal Section) semacam bagian yang bertugas untuk mensurvey calon nasabah, menyelidiki semua tentang usaha dan apapun yang berkaitan dengan pekerjaan dan profesi calon debitur. Awalnya aku selalu di dampingi teman2 marketing, begitu diberi kesempatan untuk mewawancari calon debitur, aku sering dibantu oleh teman2 marketing bila data yang ku dapat mereka anggap belum cukup. Kalau di dampingi marketing terus, aku tidak akan pernah bisa, oleh karena itu aku berusaha untuk berangkat sendiri ke rumah atau ke tempat usaha calon debitur, dan belajar mengumpulkan data. Suatu hari di salah satu rumah calon nasabah, aku melakukan wawancara untuk mengorek informasi tentang usahanya, dari perhitungan di sana sih analisaku bahwa nasabah ybs memang layak untuk diberikan kredit, tapi itu kembali tergantung ke Panitia Kredit.
Sebelum aku pamit dari rumahnya, aku meminta ijin untuk mengambil foto rumahnya, untuk dokumentasi kredit. Kemudian beliau bertanya ‘Kita ngomong di depan aja mas chandra, berapa duit yang harus saya kasihkan bila kredit saya cair, saya merasa tidak enak bila yang saya kasih itu nominalnya sedikit, makanya kita perlu bicara terlebih dahulu’. Mendengar pertanyaan seperti itu aku terkejut, aku tidak menyangka kalau akan ditanyakan hal itu, bahkan tidak menyangka lagi kalau beliau menyiapkan amplop yangtentunya berisi duit yang aku yakin jumlahnya tidak sedikit. Tanpa mengurangi rasa hormat dan supaya beliau tidak tersinggung, aku menolak dengan sehalus mungkin ‘Begini pa, di Bank Niaga tidak dapat memerima pemberian nasabah dalam bentuk apapun, karena saya bakalan di pecat. Kalau analisa kami memang benar, maka kredit bapa akan distejui begitu pun kalau ternyata hasil analisa kami ternyata bapa tidak layak, maka kami pun akan menolak’. Di Bank Niaga tidak membenarkan adanya komisi atau bingkisan apapun dari nasabah’. Beliau tetap berkeras memaksaku mengambil amplop itu “Apa mungkin pemberian saya ini sangat kecil mas, petugas dari Bank lain yang pernah survey ke sini menerima pemberian saya ini koq, dan baru kali ini saya ditolak’. Aku semakin bingung alasan apa lagi yangbisa kujelaskan kepada beliau, ‘Mohon maaf bapa, itu di Bank lain, kita ini Bank Niaga, kami bekerja buka untuk mengharap sampingan atau fee, perusahaan sudah memberikan kami gaji yang cukup (berkelit dan berdusta, padahal…..), jadi sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa menerima ini’. Aku pikir beliau tersinggung dengan semua perkataanku dan penolakanku, ternyata beliau malah memuji ‘Berati benar yang saya dengar, kalau Bank Niaga mempunyai nilai etika yang sangat bagus’. Aku ingat pesan bozku dulu, ‘Kalau kamu ingin kaya dan mencari gaji yang besar, bekerjalah di Bank lainnya’, tapi bila kamu ingin mencari ilmu dan etika, di Bank Niagalah tempatnya’.
December 30 2008 05:18 am | Sisi Palsu





December 30th, 2008 at 5:39 am
kagum saya dengan pendirian dan sikap kaw,
teruskan perjuanganmu ,
mengagumkan, sungguh !
[Reply]
December 30th, 2008 at 6:04 am
daripada dipecat gara2 duti tidak seberapa ? nyari kerja susah om
[Reply]
December 30th, 2008 at 7:41 am
hemmm iman yang kuat…salut saya..
[Reply]
December 30th, 2008 at 7:43 am
hem .. ini aku percaya soul memang spt ini ..,
[Reply]
December 30th, 2008 at 8:07 am
Salut…!
[Reply]
December 30th, 2008 at 11:06 am
Ada satu kutipan sebuah tulisan yang pernah saya baca dan cukup menarik Om:
“Ketika temanku bertanya seberapa besar gajiku saat ini, aku pun menjawab, aku bersyukur aku memiliki pekerjaan”
Mending syukuri apa yang ada daripada harus “takacak” duit kada jelas
coz bakalan jadi darah apalagi harus menanggung resiko… No Way…
Btw.. thx dah mampir ke blog ulun yg amburadul… salam kenal+dukungan penuh buat “Aruh Blogger 2009″
[Reply]
December 30th, 2008 at 12:07 pm
two thumbs up untukmu bro.. salut..
[Reply]
December 30th, 2008 at 1:12 pm
*Prok..Prok..Prok* ini Baru Freedom Fighter
[Reply]
December 30th, 2008 at 4:21 pm
kok beda sama saya ya..apa mungkin saya bukan pegawai bank..ueheuheueuhe
[Reply]
December 31st, 2008 at 4:28 am
Hidup BANK NIAGA!!! lo?
[Reply]
January 1st, 2009 at 7:39 pm
Wah, selamat atas keberhasilan dalam pertempuran melawan diri sendiri. Luar biasa!
Tetap pegang teguh komitmennya, bro!
Salam.
[Reply]
January 2nd, 2009 at 5:37 am
Bingung mo bls komen Anda kemarin di http://ahyari.com..
Jadi disini aja deh
ga pa2kan? 
Dari dulu emang mau ikut yang namanya “kayuh baimbai”, krn ksibukan kuliah dll, sehingga ga pernah bisa ikut kopdar (padahal ini syarat) atau tidak/belum ada yg mngizinkan/mrekomendasikan..
Siapa anak banua yg ga mau ikut sama-sama dangsanak sendiri?
Membaca komen anda kemarin, “Saya mengundang Anda untuk ikut kayuhbaimbai & aruhbloger”, Saya binggung, apa maksud Anda jika Saya daftar sekarang Saya akan menjadi member? Tidak bukan?harus hadir Kopdar?(ini berat bagi saya yg dari jm8pagi sampai jm6sore kerjaannya dikampus).
Jika sok sibuk, kenapa ngeblog?(mungkin ada yg brtanya spt itu), hampir 90% saya ngeblog via hape9300.bahkan proses instalasi manual wordpress n pindah domain “cuma” via Hape (saking ga sempet kewarnet)

Jadi mohon pencerahan ttg acara/undangan tsb
Makasih atas “welcome”-nya..Saya sangat Senang jika bisa ikut..amin..
[Reply]
January 2nd, 2009 at 7:19 am
bukan perjuangan berat bila kita menolak sesuatu yang kita anggap salah. Yang paling susah adalah tidak terjebak dengan godaan dalam diri kita sendiri
[Reply]