May 12th, 2009 -- Posted in Sisi Kelabu |
Aku salah satu dari puluhan ribu warna
Aku adalah telinga yang tidak tahu dari manakah letusan itu berawal
Aku adalah teriakan di antara Indonesia Raya, Orasi dan Dentuman senjata.
Aku adalah yang berdiri di depan teman yang tak berdaya
continue reading »
May 6th, 2009 -- Posted in Sisi Lain |
November 06 yang lalu, setelah melewati masa training kurang lebih 3 bulan lamanya di Surabaya, pulanglah seorang pemuda tampan kembali ke kota halamannya. Dia merupakan karyawan baru di salah satu Bank Swasta di Banjarmasin, dan berdasarkan peraturan perusahaan dia harus melewati masa-masa training ini sebelum merubah statusnya menjadi Pre Headcount (Masa sebelum menjadi karyawan tetap), dan tentu saja dengan gaji yang ia terima tidak sama dengan salary rekan-rekannya yang lain (maklum masa penggojlokan ya harus bersabar). Begitu tiba di kantornya tercinta, dia diberikan ucapan selamat oleh2 rekan-rekannya termasuk rekan2 dari pihak ke-3/outshourcing. Ucapan selamat ini mereka berikan karena si pemuda itu telah berhasil melewati masa penggojlokan dan merubah fisik pemuda itu menjadi agak sedikit berisi dan tampak lebih putih.
Salah satu rekan outshourching (security) tiba2 nyeletuk ‘Enak ya mas kerja udah jadi karyawan gajinya gede, beda dengan kami sabagai satpam’. Mendengar keluhan si satpam, pemuda itu tersenyum sakit hati, karena si pemuda itu tau berapa gaji yang mereka terima. Pemuda itu kemudian pura-pura bertanya ‘Memangnya gaji yang bapa terima di sini berapa perbulannya ?’. Security menjawab ‘walah mas, ditotal sama lembur dan tugas tambahan paling cuma 1,6 juta’. Pemuda itu pun kembali senyum, tanpa bersuara sambil mengeluarkan selmebar kertas kecil yang layak untuk dijadikan koleksi yang bernama Slip Gaji, dan langsung memperlihatkkanya ke Satpam itu. Si satpam cuma manggut2, seolah tidak percaya dengan angka yang dia lihat, seolah dia menyangka kalo si pemuda itu merekayasa jumlah gajinya. Kemudian si satpam bertanya dengan nada bicara yang sangat sopan ‘Ga salah mas, gajinya mas cuma segini, saya tidak percaya kalo ternyata gaji security seperti saya lebih tinggi dari mas’. Si pemuda kembali senyum (si pemuda tampan ini memang murah senyum), sambil berkata :
‘Janganlah memandang ke atas, tapi pandanglah ke bawah, masih banyak orang yang tidak seberuntung kita’.
May 2nd, 2009 -- Posted in Sisi Lain |
‘Hidup ini penuh dengan spekulasi, dan aku harus berani mengambil spekulasi untuk maju meski harus berkorban’. continue reading »