HIDUP PEMBAJAKAN
Siang itu suhu dikantor begitu panas, sama juga seperti panasnya emosi saya menghadapi teman-teman di kantor. Hari itu pekerjaan kami bertambah, dimana seharusnya pekerjaan itu bukanlah job desc kami, berhubungan bagian yang bersangkutan sedang cuti maka kamilah yang mengerjakan pekerjaannya. Daripada emosi saya semakin memuncak dan akhirnya bikin babak belur teman saya dikantor, maka saya putuskan untuk pergi saja ke luar kota bersama driver sekedar berkunjung ke relasi kantor (notaris, developer, dealer).Â
1 hal yang suka ketika bepergian dengan sopir saya itu, dia punya cerita-cerita unik yang kadang tidak pernah saya dengar, seperti cerita dia siang itu. Sebelum kami bepergian ke luar kota, siang harinya dia makan siang di sebuah pasar sekaligus mengunjungi teman lamanya yang berprofesi sebagai pedagang VCD/DVD/CD Bajakan.
Dari si teman itu (pedagang), dia mendapatkan informasi kalau para pedagang bajakan ini pun setiap harinya wajib mengeluarkan Rp. 35 ribu/hari untuk satu polisi yang sering beroperasi di pasar tersebut, sehingga pedagang bajakan di sana tidak pernah sama sekali di razia aparat keamanan. Di pasar tersebut ada sekitar 6 kios pedagang bajakan, kalau 1 kios membayar Rp. 35.000,-/hari berarti si polisi meraup pungutan Rp. 210.000,-/hr, yang berarti pula Rp. 6.300.000,-/bln WOW !!!!!!!!. Sementara ongkos pungutan Rp. 35.000,-/hari itu terlalu kecil bagi pedagang karena sama saja dengan menjual 6 keping CD seharga Rp. 6.000,-/bh.
Sementara rata-rata setiap hari para pedagang ini mampu menjual 30 keping CD eceran, dan mereka juga berfungsi sebagai agen untuk dikirimkan lagi ke daerah lain dalam jumlah ratusan. Menurut cerita si sopir, kalau temannya si pedagang itu pernah tertangkap tangan ketika mengambil Cargo berisi CD bajakan, dan terkena denda sejumlah Rp. 7 juta. Yang menarik dari informasi ini, antara si pengirim dan pedagang lokal memilki kode tertentu untuk barang dagangan mereka yang juga dimengerti oleh petugas Cargo, sehingga barang kiriman bisa lolos dari pemeriksaan. Bahkan alamat pengiriman barang itu pun adalah fiktif, sehingga susah dilacak.
Yang mengetahui ke mana barang itu akan dikirimkan hanya si pedagang yang menerima barang dan petugas pengantar barang, sekali lagi WOW !!!!!!!!!!!!!. Terus bagaiman caranya supaya perdagangan seperti in bisa dihentikan, yang konon gara-gara prilaku oknum ini, banyak band-band atau artis yang merasa dirugikan Milyaran rupiah karena lagunya dibajak. Saya mungkin hanyalah salah satu orang yang juga suka membeli CD/DVD bajakan di emperan. Dan bagi saya yang seharusnya ditelusuri dan ditindak adalah yang bikin usaha penggandaan lagu-lagu bajakan bukanlah yang berjualan, karena mereka pun butuh duit untuk hidup, dan saya pun butuh barang yang murah untuk saya nikmati.
February 04 2010 10:44 am | Satu Sisi





February 4th, 2010 at 2:09 pm
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:55 am
font lagi yang dibahas
[Reply]
February 4th, 2010 at 2:58 pm
sekali lagi WOW!!!!, tulisannya…!! bajak membacak itu perkara mudah, tapi, bagaimana dengan aparatur negara..??, ah…. sia2 berita di tv itu yang menggalangkan stop bajak membajak….
tulisan ini kaerna suhu dikantor saya juga sagat puanaasssss….
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:56 am
saya suka comment ini
[Reply]
February 4th, 2010 at 3:36 pm
makanya bank harus memberi keridit tanpa bunga buat mereka modal usaha……
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:56 am
mungkin ada bank laen yang mau biayai pembajakan
[Reply]
February 5th, 2010 at 3:29 pm
Ya itulah asas saling memanfaatkan.
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:57 am
wuekekekekekekekekek
[Reply]
February 5th, 2010 at 4:07 pm
dualisme aparat? ah cerita lama…
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:57 am
cerita lama diungkapkan kembali Chi
[Reply]
February 6th, 2010 at 11:30 am
semua karena untuk ‘menyambung hdiup’
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:58 am
tepat sekali
[Reply]
February 6th, 2010 at 12:51 pm
woooowwww……
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:58 am
yeeeeeeeeeeeaaaaaaaaahhhhhhhhhhh
[Reply]
February 7th, 2010 at 1:23 pm
cerita sopir yang menarik, mereka mempunyai cara dan siasat dalam menjalankan bisnisnya, yang membuktikan bahwa ternyata terlalu banyak tangan dan mulut yang terlibat yang memberikan peluang aktivitas tersebut terus berjalan.
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 10:58 am
semua bisa dijadikan duit ya pa’a’
[Reply]
February 8th, 2010 at 10:43 am
Pembajakan itu tidak bisa dihilangkan. tapi kalau digunakan sebagai saingan dapam memenangkan pasar akan menghilang dengan sendirinya. Sebagai contoh : kalau keping CD asli dihargai dengan Rp 8000 saja maka konsumen akan berpikir seribu kali untuk beli yang bajakan
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 11:00 am
makanya saya juga suka beli bajakan
[Reply]
February 9th, 2010 at 11:32 am
Yah.. begitulah negeri kita ..
itu belumlah termasuk pendownload2 dari dunia maya yang saya yakin jumlahnya juga lumayan besar.
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 11:01 am
termasuk anda kan ?
[Reply]
February 10th, 2010 at 1:19 pm
kalau band-band atw artis tdk mau di rugikan,tp knp mrk setuju saja harga CD asli di atas 50rb.
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 11:01 am
hooh, mau beli original mahal mending bajak aja
[Reply]
February 10th, 2010 at 1:40 pm
terus terang aja saya juga salah satu yg beli bajakan, mau beli yg original mahal, jadi yah kalo mang kepept kenapa nggak.
[Reply]
soulharmony Reply:
February 14th, 2010 at 11:03 am
wuihihihihiiihi
[Reply]
February 17th, 2010 at 6:53 pm
cerita yang sangat menarik mas..
tp pembajakan pasti tetep beredar krn orang butuh..
dan apalg klo hanya untuk koleksi pribadi.
[Reply]
February 28th, 2010 at 7:57 pm
karena pembajakan banyak orang masih bisa bertahan hidup. tapi tetap saja salah untuk dilakukan.
[Reply]
March 20th, 2010 at 4:04 pm
prinsip saya.. jangan pernah membeli dvd bajakan karya anak Indonesia
kalo beli bajak dvd2 hollywood… gapapa lah ya. hehe
untung di bandung 1 dvd = 5 ribu. kalo beli 10 bisa gratis 1 di tempat dvd langganan saya hehe
[Reply]
March 21st, 2010 at 3:03 pm
Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang aktivis di sebuah forum, yang bernama FORUM LNETENG, yang mana aktivis tersebut dengan tegas untuk saat ini dia mendukung apa yang kita kenal dengan pembajakan, tetapi dengan catatan bukan untuk komersial, melainkan untuk usaha pendidikan. Dia berpendapat bahwa negera kita belum aksesabel mendapatkan bahan-bahan (buku, video, film, kaset, dsb) yang bisa dijadikan bahan pelajaran (pendidikan) karena ulah kapitalisme yang mematok harga sangat tinggi sehingga orang-orang kita tidak bisa membelinya. Dan perilaku pembajak yang membajak bahan-bahan tersebut dan menjualnya dengan harga murah kepada orang-orang kita perlu diapresiasi karena dengan begitu semua rakyat miskin mempunyai akses untuk iktu melihat karya-karya para seniman besar. Contohnya, apakah semua anak di Belitung benar-benar sudah menonton film Laskar Pelangi dan San Pemimpi? Saya rasa tidak. Kalaupun katanya pihak pembuat film telah memberikan kado kepada anak-anak belitung untuk menonton film tersebut, tetapi saya yakin tidak semua anak di belitung ikut menonotnnya. Nah, dengan adanya pembajakan, harga kaset menjadi murah sehingga anak-anak di belitung dapat menonton film tersebut (mereka memiliki akses untuk belajar dan melihat karya-karya yang bagus).
Aktivis dari forum itu berkata, “Saya akan sangat mendukung diberlakukannya hukum dan aturan yang melarang pembajakan, tetapi dengan catatan para pelaku industri atau para pelaku kapitalis mau menjual produk-produk mereka dengan harga yang sangat murah sehingga semua orang bisa membelinya untuk belajar!”
Nah, bagaimana pendapat saudara penulis dengan hal ini?
[Reply]
December 4th, 2010 at 11:02 am
Selamat pagi, kunjungan perdana saya. Salam kenal bro. Blog nya bagus
[Reply]