Archive for the 'Sisi Pemberontak' Category
June 17th, 2009 -- Posted in Sisi Pemberontak |
Saya baru menyadari kalo Dia telah mengirimkan Malaikat Penjaga Hati saya yang lemah, tapi Ia pun menitipkan seekor setan yang setiap detik selalu mengekor langkah saya. Tak henti-hentinya saya digoda olehnya dengan berbagai cara. Terjadi pergolakan dan peperangan antara mereka berdua dalam jiwa saya yang rapuh.

Semoga malaikat saya seperti ini
continue reading »
June 11th, 2009 -- Posted in Sisi Pemberontak |
Suatu ketika teman saya bercerita tentang pengalamannya di interview sebuah perusahaan tempat ia melamar. Dia bercerita kalau si pewawancara bertanya sesuatu yang tidak nyambung dengan bidang pekerjaan yang dilakoni oleh perusahaan itu. Ketika itu dia ditanya ‘Hal apa yang paling berat dalam hidup anda ?’. Teman saya itu pun menjawab, ‘Yang paling berat dalam hidup saya adalah sampai saat ini saya masih berstatus pengangguran walaupun sudah puluhan kali di test dan di berikan kesempatan interview oleh perusahaan’. continue reading »
June 7th, 2009 -- Posted in Sisi Pemberontak |
Apa yang akan terjadi nanti, kita hanya bisa menunggu. Sebelumnya sudah saya tebak kalau nanti, di dalam hati mereka akan terjadi pergolakan apakah bertahan ataukah harus berpaling ke lain hati. Inilah yang saya bilang satu sisi hati manusia, detik pertama mereka akan setia, detik kedua mereka akan menjadi plin plan, detik ketiga mereka akan menjadi pengkhianat. Dulunya adalah seorang lawan yang tangguh sekarang menjadi kawan, yang dulunya adalah kawan sekarang menjadi musuh dalam selimut.
continue reading »
May 16th, 2009 -- Posted in Sisi Pemberontak |
Malam itu saya beberapa kali dihubungi oleh seorang teman, dan terbesit pikiran yang begitu buruk, sebab saya yakin kalau dia sampai menelpon pastilah ada hal-hal yang tidak beres. Dan ternyata benar, tanpa ada salam atau kata2 pembuka sekedar menanyakan kabar, yang saya dengar hanyalah tangisan pilu, tangisan menyesal, tangisan jera entah alasan apa yang membuat dia menangis sehebat itu. Sekitar seperempat jam yang saya dengar cuma tangisan saja, sementara saya punya janji untuk menelpon seseorang pada saat yang sama, dan mengcancel telpon teman ini pun juga tidak mungkin karena dia butuh bantuan saya. continue reading »
« Prev - Next »